(Indonesian) Cerita Mungil dari Panti Asuhan di Azerbaijan

//(Indonesian) Cerita Mungil dari Panti Asuhan di Azerbaijan

(Indonesian) Cerita Mungil dari Panti Asuhan di Azerbaijan

ac40f4c4-ae16-4b23-b5e7-ae80f0bbd229_169Baku, CNN Indonesia — Pada sebuah pagi yang cerah, dengan cuaca sekitar 10 derajat hari itu, Duta Besar RI untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie, mengunjungi sebuah panti asuhan di Baku, ibukota negara Azerbaijan. Dubes Husnan yang datang bersama beberapa pegawai dari KBRI Baku, berniat untuk bisa berbagi cerita yang akrab bersama anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut.

Panti asuhan yang dikunjungi bernama The Psycho-Neurological Orphanage, atau dalam bahasa Azerbaijan ini disebut dengan Psixo-Nevroloji Ushaq Evi. Bangunan panti asuhan ini sangat layak, gedung yang bersih, dengan cat dinding putih gading dan lantai yang mengkilap, bahkan dilengkapi dengan elevator yang biasa naik-turun dari lantai 1 ke lantai 5.

Di sebuah ruangan seperti hall, anak-anak ini sudah berkumpul. Sungguh akan sulit sekali untuk tidak berinteraksi dengan mereka.

Mata mereka bersinar terang dengan sorotan yang tulus, menandakan kasih sayang. Di tengah dunia orang dewasa yang biasa kita hadapi, sentuhan dari jemari kecil anak-anak ini, benar-benar seperti embun penyejuk bagi jiwa yang lelah. Wajah-wajah anak-anak yang rata-rata berusia 2-6 tahun ini betul-betul lucu dan menggemaskan.

Mereka juga tak takut melemparkan senyum, bahkan kepada orang yang bukan hanya asing seperti kami, tapi juga berbeda ras, yang mungkin belum pernah mereka temui sebelumnya. “Ini merupakan salah satu kegiatan yang ditujukan untuk mempererat masyarakat Indonesia dengan masyarakat Azerbaijan,” ujar Husnan Bey Fananie dalam acara tersebut (6/3/2017).

“Kedatangan saya kemari hari ini adalah untuk mengunjungi anak-anak Azerbaijan yang kurang beruntung. Indonesia dan Azerbaijan adalah saudara, maka saya seperti sedang mengunjungi anak-anak saya juga.” Memang perlu diketahui, bahwa sebanyak 110 anak yang berada di panti asuhan ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Ada yang sudah tak memiliki orang tua, ada juga yang memiliki sindrom autisme, merupakan seorang difabel, atau yang memiliki down syndrome. Di panti ini mereka dirawat, diajari, diberikan terapi, didukung perkembangan otak, fisik dan mentalnya. Sebagian dari mereka sudah bisa berinteraksi dengan baik, seperti anak-anak pada umumnya.

Ibu Irede, kepala dari rumah panti asuhan ini menjelaskan bahwa Pemerintah Azerbaijan selalu memberikan dana dan bantuan kepada anak-anak di sini, mereka juga berterima kasih kepada pemerintahnya, karena pada tahun 2008 lalu, bangunan ini diperbaiki atas biaya pemerintah. Sebelumnya, gedung bangunan ini sudah tua dan tak ramah lagi bagi anak-anak.

Namun, Ibu Irede juga menjelaskan bahwa anak-anak di sini masih membutuhkan bantuan berupa dukungan mental dan kasih sayang. “Anak-anak di sini butuh perhatian dari kita, saya berterima kasih sekali kepada rekan-rekan dari Indonesia yang memberikan dukungan mental juga bantuan kepada anak-anak di tempat ini.”

Selain menjalani berbagai terapi, dan latihan kecerdasan agar anak-anak di sini dapat hidup mandiri kelak, tempat ini juga memberi pelatihan-pelatihan berbasis kemampuan. Buktinya, di hari ini sebagian anak-anak menyuguhkan tarian tradisional Azerbaijan, dan mereka menarikannya dengan sungguh bagus.

Menghabiskan hari bersama anak-anak di sini, melihat bagaimana sigap dan sabarnya para perawat bagi anak-anak ini, tentu banyak membawa pesan kebaikan. Bahwa ternyata memang kasih sayang dan kemanusiaan itu melampaui batas-batas agama, suku, ras, teritori dan lainnya. Karena kita juga pernah menjadi anak-anak, yang semurni itu.

By | 2017-08-01T21:39:34+00:00 Agustus 1st, 2017|Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment